Rahasia Storytelling Keterampilan Ampuh untuk Sukses di Era Digital
Kalau ditanya, siapa sih yang paling berkuasa di dunia ini? Mayoritas pasti bilang orang yang punya uang. Tapi kalau menurut gua, bukan. Menurut gua, storyteller-lah yang paling berkuasa.
Yes, orang yang bisa bercerita. Bahkan, orang se-influensial Steve Jobs pun pernah mengungkapkan sentimen yang sama. Sederhananya, kalau lu bisa bercerita, lu punya kuasa. Sering kan lu dengar cerita dari orang yang sebenarnya kosong banget, tapi karena dia jago cerita, akhirnya dia jadi "seseorang"? Sebaliknya, ada orang yang kompetensinya dalam banget, jago di bidangnya, tapi karena dia nggak bisa bercerita atau mengkomunikasikan skill yang dia punya, hidupnya stagnan.
Terkesan nggak adil, kan? Tapi coba lihat interaksi ini aja. Buat mayoritas dari kalian, pasti udah terasa nggak adil banget. Siapa sih gua? Siapa sih Agus Leo Halim? Apakah gua lebih pintar dari lu pada? Jelasnya, kagak. Gua bahkan pernah ditolak saat minta surat referensi dari dosen gua untuk jenjang karir. Tapi uniknya, sekarang lu pada malah nontonin gua, malah mencari ilmu dari gua.
Mungkin ada yang berpikir, "Bener juga ya, kenapa gua harus nontonin orang ini?" Atau mungkin ada yang udah keluar dari video ini. Tapi buat yang masih lanjut nonton, gua asumsi lu beneran pengen menguasai keterampilan ini—keterampilan bercerita lewat kamera. Karena lu tahu bahwa skill ini bisa mengamplifikasi semua keterampilan yang lu punya.
Jadi, asumsi gua sekarang, lu udah punya keterampilan di bidang tertentu. Kalau ditambah dengan keterampilan bercerita, dampaknya bisa eksponensial. Menurut gua, kompetensi apa pun, bahkan yang lu anggap boring atau nggak seksi, bisa jadi sesuatu yang besar di era media sosial ini kalau dikombinasikan dengan storytelling.
Apakah Storytelling Itu Skill Bawaan atau Bisa Dipelajari?
Gimana caranya? Lu pasti pengin tahu. Apakah storytelling ini skill yang langsung kita terlahir dengan itu, atau ini skill yang bisa kita develop, kita pelajari?
Jawaban gua: skill ini bisa dipelajari. Bukti nyatanya, di tanggal 16 Desember 2020, gua pertama kali pencet kamera, rekam, dan ngomong ke audiens. Itu mengubah hidup gua. Dalam sisi positif atau negatif? Bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas, hidup gua berubah.
Gua yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba diundang ke berbagai acara sebagai narasumber. Tiba-tiba dapat kesempatan melatih di perusahaan ternama. Padahal, awalnya gua sama seperti kalian. Gua adalah orang yang socially awkward, seorang introvert, nggak punya background public speaking, dan nggak pernah ikut pelatihan public speaking.
Coba lihat video pertama gua di YouTube Agusleo Halim. Gua kaku banget. Tapi gua punya komitmen: 100 video dalam 200 hari. Nggak pamer kekayaan, nggak giveaway, nggak collab. Selama proses ini, gua juga nge-live di TikTok dengan harapan bisa direct traffic ke YouTube. Gagal? Iya. Tapi dari situ gua mendapatkan jam terbang.
Dari pengalaman ini, gua bisa merangkum beberapa poin penting buat kalian yang mau mengakuisisi keterampilan storytelling ini.
1. Mindset yang Benar
Ini terdengar generik, tapi fundamental. Kalau mau ngomong di depan kamera, lu harus otentik. Maksudnya, jangan palsu. Ceritakan apa adanya. Kalau keterampilan lu di level tertentu, ya akui di level itu. Jangan delusional.
Kenapa otentisitas penting? Karena meskipun ini dunia digital, orang yang nonton bisa merasakan apakah lu jujur atau pura-pura. Mereka punya radar skeptis. Tugas lu adalah menurunkan skeptisisme mereka dan membangun trust. Semakin lu otentik, semakin mereka percaya.
Selain itu, tentukan gaya bicara lu. Ada dua pilihan:
- Nongkrong mode → Santai, ngobrol seperti teman.
- Performance mode → Lebih serius, lebih bertenaga seperti presentasi.
Pilih gaya yang sesuai dengan karakter lu.
2. Senyum dan Eye Contact
Tips simpel, tapi powerful. Saat ngomong di depan kamera, usahakan untuk tersenyum. Sama seperti ketemu orang di dunia nyata, senyum bikin kesan lebih ramah dan welcoming.
Selain itu, tatap lensa kamera, bukan layar. Ini penting supaya audiens merasa lu sedang bicara langsung ke mereka. Salah satu stand-up comedian Amerika, Hasan Minhaj, dikenal dengan gaya komunikasinya yang engaging. Salah satu kekuatannya adalah eye contact dan penggunaan hand gesture.
3. Hand Gesture Itu Penting
Banyak yang bilang Hasan Minhaj lebay dengan gerakan tangannya. Tapi menurut gua, justru itu yang membuat komunikasinya lebih menarik. Gua sendiri awalnya nggak pakai hand gesture sama sekali. Hasilnya? Gua jadi lebih kaku dan nggak ekspresif.
Sekarang coba perhatikan:
- Tanpa hand gesture → Pesan terasa datar.
- Dengan hand gesture → Pesan lebih hidup.
Hand gesture itu kayak kosmetik dalam storytelling. Selama nggak berlebihan, justru bisa memperkuat penyampaian pesan.
4. Jam Terbang Itu Kunci
Ini hal paling penting: kuantitas bikin kualitas.
Lu nggak bisa berharap langsung jago dari awal. Di hari pertama, lu bakal jelek. Itu normal. Jangan langsung nyerah. Kalau lu berhenti, berarti lu nggak serius.
Buat yang masih malu, nggak usah langsung nge-live atau nge-YouTube. Rekam aja dulu buat arsip pribadi. Hari ke-2, ke-3, ke-4, lu bisa cek dan perbaiki kesalahan.
Kalau lu orang yang butuh sistem, gua saranin pakai habit tracker. Gua sendiri punya metode Habit 30, di mana selama 30 hari lu bisa membangun kebiasaan baru. Lu bisa mulai dengan ngomong depan kamera 30 menit per hari, terus tandai progres lu.
Kesimpulan
Menurut gua, storytelling bukan bakat bawaan. Ini skill yang bisa di-develop. Gua sendiri nggak punya talenta alami dalam storytelling. Tapi gua belajar, latihan, dan akhirnya bisa.
Kalau gua aja bisa, kenapa lu nggak?
Jadi, kalau 100 hari terasa terlalu ekstrem, coba pakai metode Habit 30.
Post a Comment for "Rahasia Storytelling Keterampilan Ampuh untuk Sukses di Era Digital"