Pentingnya Circle Pertemanan dalam Meningkatkan Bisnis dan Karier
Kalian perlu hati-hati dalam memilih circle pertemanan. Artikel kali ini adalah cerita pengalaman gue. Gue seorang content creator dan business owner.
Dulu, gue menganggap remeh kata-kata, "Kalau lo bermain dengan tukang parfum, lo akan wangi parfum. Kalau lo bermain dengan tukang ikan, lo akan bau ikan." Gue berpikir, "Ah, enggak ah. Kalau gue main sama tukang ikan, ya tinggal pakai parfum aja." Gue juga berpikir kalau gue berteman dengan orang yang enggak punya visi ke masa depan, gue tetap bisa jadi orang yang berpikiran jauh ke depan.
Awalnya, gue punya pemikiran seperti itu dan mengabaikan hal-hal tersebut. Sampai suatu hari, kejadian ini baru aja terjadi sama gue.
Awal Mula Kesadaran
Buat lo yang sudah kenal gue, lo tahu kalau gue seorang content creator. Penghasilan gue berasal dari endorsement dan consulting karena gue bekerja sebagai konsultan content marketing di media sosial untuk beberapa perusahaan. Selain itu, gue juga punya kelas online.
Di tahun ini, kita mengalami yang namanya economic slowdown. Makroekonomi lagi lesu, penjualan juga lesu. Mungkin ada beberapa bisnis yang masih bagus, tapi mayoritas teman-teman gue yang gue tanya, mereka bilang penjualannya lagi turun, terutama di sektor retail.
Alhamdulillah, bisnis gue, endorsement, dan consulting gue masih cukup menghasilkan. Waktu di kuartal 2 dan 3 tahun ini, gue benar-benar santai. Uang tetap masuk, cukup buat gue, dan gue merasa nyaman tanpa harus kerja terlalu keras. Akhirnya, gue menikmati hidup dengan berenang, lari, golf, gym, dan sebagainya.
Tapi, tanpa gue sadari, intensitas gue dalam mengurus bisnis dan profesi mulai berkurang. Dari yang tadinya 100%, sekarang cuma sekitar 40-50% aja.
Mencari Kesibukan Baru
Karena gue punya waktu kosong, gue mencoba mencari kesibukan baru. Akhirnya, gue iseng ikut workshop tentang Facebook Ads. Kalau ditanya apakah gue benar-benar butuh ilmunya? Jawabannya, enggak banget! Karena gue udah nge-ads dari tahun 2017, udah ngerti cara mainnya, punya gaya sendiri, dan Ads gue sudah profitable.
Tapi, gue merasa harus mengisi otak gue dengan hal-hal baru yang mendukung pekerjaan utama gue. Gue sadar kalau beberapa bulan terakhir, gue terlalu terlena dengan kegiatan yang enggak mendukung profesi gue.
Workshop ini cukup mahal, sekitar RpX juta atau RpY juta, gue lupa pastinya. Tapi akhirnya, gue ikut dan kenalan sama banyak orang yang memulai bisnis. Gue ketemu pengusaha dengan omzet miliaran per bulan dan tahunan.
Bertemu dengan Sosok Inspiratif
Suatu hari, gue bertemu dengan seorang teman yang punya omzet Rp11 miliar per bulan. Gue heran, "Anjir, nih orang udah omzet segini masih ikut kelas Facebook Ads?" Harusnya, tim dia aja yang ikut, bukan dia.
Yang lebih mengejutkan, pas gue tanya, "Ini kelas pertama lo?" Dia jawab, "Gue udah ikut dua kali."
Gue langsung merasa kegampar. Gue ketemu orang yang omzetnya Rp11 miliar per bulan masih semangat belajar, sementara gue yang omzetnya belum segitu malah santai-santai.
Untungnya, santai gue masih ada manfaatnya, seperti olahraga yang bikin badan lebih sehat. Tapi gue tetap merasa malu. Beberapa bulan terakhir, gue jarang upgrade diri, jarang baca buku, jarang beli online course, jarang ikut workshop. Sampai akhirnya, gue sadar otak gue mulai tumpul.
Ketemu orang ini bikin gue berpikir, "Gila, yang Rp11 miliar aja masih semangat belajar, gue yang belum segitu malah tenang-tenang aja."
Mengapa Dia Masih Semangat Belajar?
Karena gue penasaran, gue tanya ke dia:
"Bro, apa sih yang bikin lo masih semangat belajar dan berbisnis, padahal lo udah punya omzet Rp11 miliar per bulan?"
Jawabannya bikin gue makin sadar:
- Gue butuh pencapaian baru dalam hidup. Namanya manusia, harus selalu naik kelas, naik level. Kita harus bersyukur, tapi enggak boleh puas.
- Gue enggak punya gelar sarjana dan enggak tahu kapan bisnis gue bisa bangkrut. Gue harus tetap kuat sebagai pemimpin dan melindungi keluarga gue.
Dia juga bilang, dia selalu meminta timnya untuk mendaftarkan dia ke berbagai workshop atau kelas yang relevan dengan bisnisnya. Tanpa banyak tanya, dia langsung ikut.
Gue tanya lagi, "Kenapa, Bro?"
Jawabannya simpel: "Gue pengen belajar jadi orang yang lebih baik. Mungkin gue enggak bisa nangkep semua ilmu, tapi kalau ada 1-5% aja yang nempel, itu udah cukup buat bantu bisnis gue. Kalau pun enggak dapat ilmu baru, setidaknya gue bisa bangun network baru."
Mindset dia luar biasa. Dia enggak cuma butuh uang, tapi lebih butuh ilmu dan network yang bisa membantu bisnisnya tumbuh dari Rp100 miliar jadi Rp1 triliun per tahun.
Refleksi untuk Diri Sendiri dan Kalian
Setelah ngobrol sama dia, gue langsung merasa terbakar! Gue pulang dari workshop dengan semangat baru. Gue harus gaspol! Gue harus kasih yang terbaik sampai titik darah penghabisan!
Sekarang, gue mau tanya ke kalian:
- Kalau lo belum punya omzet Rp1 miliar per bulan, apakah lo sudah berusaha yang terbaik buat diri lo?
- Apakah lo sudah mengaudit circle pertemanan lo?
- Apa informasi yang lo dapat dari orang-orang di sekitar lo?
Jangan salah paham. Gue bukan tipe orang yang enggak nongkrong di warung, minum kopi, main karambol, gapleh, atau capsah. Gue udah pernah ngerasain semua itu. Tapi setelah gue bandingin, workshop dengan pebisnis yang bisa bayar mahal lebih banyak memberikan manfaat.
Artikel ini gue tulis buat lo yang ingin merenung. Apakah lo sudah memberikan yang terbaik untuk hidup dan karir lo?
Dan yang paling penting: Apakah lo sudah dikelilingi oleh orang-orang yang punya target dan semangat yang sama dengan lo?
Hidup kita cuma sekali. Hal paling berharga di dunia ini adalah waktu.
Pertanyaannya, lo gunakan waktu lo sama siapa?
Post a Comment for "Pentingnya Circle Pertemanan dalam Meningkatkan Bisnis dan Karier"