Cara Memulai Bisnis dengan AI, Peluang Besar dengan Modal Kecil
Apakah benar seseorang yang bukan siapa-siapa, dengan video yang biasa saja dan konten yang gado-gado, bisa sukses tanpa melakukan kolaborasi, giveaway, atau strategi pemasaran lainnya?
Selama 200 hari, saya membuat 100 video tanpa henti. Apakah ini bisa menjadikan saya seorang kreator profesional? Jawabannya adalah: ya! Karena channel ini sudah menghasilkan pendapatan hingga enam digit setiap bulan dari berbagai sumber, baik sebagai YouTuber maupun kreator.
Hari ini, saya akan membagikan semua metodologi yang saya gunakan untuk membangun channel YouTube ini. Anda hanya perlu mengamati, meniru, dan memodifikasi sesuai dengan konteks masing-masing. Saya yakin metode ini bisa membantu mempercepat karier Anda di YouTube.
Total framework yang saya gunakan ada empat. Keempat framework ini bisa semakin ekstrem dan eksponensial jika Anda menggunakan satu tools tambahan. Maka dari itu, tonton video ini sampai habis agar tidak ketinggalan informasinya. Framework ini juga tidak terbatas hanya untuk YouTube, tetapi bisa diterapkan di platform lain seperti Instagram dan TikTok.
Framework ini sangat cocok bagi pemula yang ingin mencapai 100.000 subscribers atau followers. Namun, sebelum masuk lebih dalam, saya ingin memperkenalkan Canva. Saya akan menjelaskan mengapa Canva sangat penting untuk membantu karier Anda di industri kreatif.
Memulai dari Nol: Fokus pada Value
Jika saya harus mengulang dari nol, saya pasti akan menghadapi tantangan yang sama seperti yang Anda alami sekarang. Bingung harus mulai dari mana, banyaknya tren viral yang ingin diikuti, dan merasa tidak nyaman saat harus mulai beraksi, terutama ketika melihat video hanya ditonton oleh tujuh orang.
Jadi, pertanyaan utama adalah: mulai dari mana? Jawabannya adalah value atau nilai tambah. Tanpa value, tidak ada gunanya menonton video ini. Setiap manusia memiliki value, dan Anda harus menemukannya agar bisa menunjukkan sesuatu yang berharga di dunia digital.
Jika Anda masih skeptis, saya akan membagikan beberapa testimoni dari kreator lain yang telah menggunakan framework saya dan mendapatkan hasil nyata. Anda bisa pause video ini jika ingin membacanya lebih lanjut.
Framework 1: Niche & Ideation
Setelah mengetahui value yang Anda miliki, langkah berikutnya adalah menentukan niche. Ini adalah level 1 dalam perjalanan kreator Anda. Tanyakan pada diri sendiri:
- Siapa saya?
- Apa yang saya inginkan?
Kemudian, di level 2, tanyakan:
- Siapa target audiens saya?
- Apa yang mereka inginkan?
Bayangkan ada dua lingkaran diagram Venn: satu berisi apa yang Anda inginkan dan satu lagi berisi apa yang diinginkan audiens. Bagian tengahnya adalah value yang bisa Anda berikan.
Ketika sudah tahu nilai tambah yang bisa diberikan, akan lebih mudah untuk menentukan kata kunci dan ide konten. Banyak orang saat ini menggunakan ChatGPT untuk brainstorming ide konten, tetapi ada tools lain yang lebih praktis, yaitu Canva Docs.
Banyak yang mengira Canva hanya untuk desain, tetapi sekarang Canva memiliki fitur AI yang bisa digunakan untuk brainstorming ide konten YouTube sekaligus membuat script dalam satu workspace tanpa harus berpindah tab. Ini mempermudah pembuatan konten secara cepat dan efisien.
Framework 2: Sistem Kerja yang Konsisten
Kebanyakan pemula tidak memiliki sistem kerja. Tanpa sistem, kreator hanya akan bekerja berdasarkan mood. Itulah mengapa saya selalu menyarankan untuk membuat 100 video pertama.
Mengapa 100 video? Karena ini adalah output yang bisa dikontrol. Berbeda dengan subscribers atau views yang tidak bisa dikendalikan, jumlah video yang dibuat adalah sesuatu yang dapat diatur sendiri.
Untuk membangun sistem kerja yang rapi, gunakan fitur Whiteboards dari Canva. Ini adalah papan tulis digital tanpa batas yang bisa digunakan untuk mind mapping, perencanaan konten, dan brainstorming bersama tim.
Whiteboards ini real-time, sehingga jika Anda memiliki tim, mereka bisa langsung bekerja bersama dalam satu workspace yang sama. Selain itu, ada fitur Magic Short yang bisa secara otomatis mengategorikan ide, serta Magic Switch yang mengubah hasil brainstorming menjadi dokumen atau presentasi dengan satu klik.
Dengan sistem ini, Anda tidak perlu lagi menunggu mood untuk berkarya.
Framework 3: Delegasi & Skalabilitas
Setelah mengalami perkembangan, langkah selanjutnya adalah mendelegasikan tugas. Banyak orang mengira menjadi YouTuber atau content creator harus dilakukan sendirian. Itu memang bisa dilakukan, tetapi akan sangat melelahkan dan berisiko burnout.
Saat mulai merekrut tim, penting untuk mengelola administrasi dengan baik. Misalnya, jika ingin melakukan monetisasi dan bekerja sama dengan brand, Anda perlu membuat rate card. Ini bisa dilakukan dengan mudah menggunakan Canva Presentation, yang dilengkapi dengan animasi pintar agar presentasi lebih profesional dan menarik.
Jika Anda ingin memperluas sumber pendapatan, salah satu opsi terbaik adalah menjual digital product, seperti e-course atau pre-recorded video. Canva juga memiliki fitur Record Presentation yang memungkinkan Anda merekam presentasi tanpa perlu menggunakan aplikasi tambahan.
Framework 4: Monetisasi & Brand Konsistensi
Ketika channel Anda berkembang, Anda bukan lagi sekadar content creator individu, tetapi juga pemilik bisnis kecil (UMKM kreatif). Saat mencapai tahap ini, brand consistency menjadi sangat penting.
Di Canva, ada fitur Brand Kit yang memungkinkan Anda menyusun warna utama, font, dan elemen visual lainnya agar semua konten terlihat konsisten. Ini sangat membantu saat Anda mulai membangun tim, karena anggota baru bisa langsung memahami identitas brand Anda.
Canva juga memiliki MSME Tools, yang dirancang khusus untuk bisnis kecil dan menengah. Dengan fitur ini, Anda bisa membuat konten media sosial, materi marketing, dan branding dengan lebih mudah karena sudah tersedia banyak template profesional.
Kesimpulan: Langkah-Langkah Menuju 100 Juta Pertama dari YouTube
Untuk merangkum, berikut adalah langkah-langkah makro yang akan saya lakukan jika harus membangun karier di industri kreatif dari nol:
- Tentukan value Anda – Tanpa value, strategi apa pun tidak akan berhasil.
- Pilih niche dan buat ide konten – Fokuslah pada satu bidang tertentu yang sesuai dengan value dan minat audiens.
- Posting 100 video pertama – Jangan terlalu fokus pada subscribers, fokuslah pada produksi konten yang konsisten.
- Buat sistem kerja – Gunakan tools seperti Canva Whiteboards untuk merancang workflow yang efisien.
- Delegasikan tugas – Mulai rekrut tim dan gunakan Canva untuk membantu mengelola pekerjaan administratif.
- Monetisasi dengan digital product – Buat e-course atau produk digital lainnya untuk memperluas sumber pendapatan.
- Bangun brand yang konsisten – Gunakan Canva Brand Kit agar identitas visual tetap terjaga seiring berkembangnya bisnis.
Saya jujur iri dengan kreator baru saat ini, karena teknologi sudah jauh lebih maju dibanding saat saya memulai. Dulu, saya harus menggunakan banyak aplikasi berbeda, tetapi sekarang semua bisa dilakukan dalam satu platform: Canva.
Bahkan, Canva kini bisa diakses tanpa kartu kredit dan tersedia dalam paket harian seharga Rp14.000 saja. Dengan harga segelas kopi, Anda bisa memiliki tools yang membantu perjalanan Anda di industri kreatif.
Post a Comment for "Cara Memulai Bisnis dengan AI, Peluang Besar dengan Modal Kecil"