-->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

7 Bias Kognitif yang Menghambat Pengambilan Keputusan dan Cara Mengatasinya

7 Bias Kognitif yang Menghambat Pengambilan Keputusan dan Cara Mengatasinya

Setiap hari, kita selalu harus mengambil keputusan yang mungkin saja mengubah hidup kita. Dari keputusan-keputusan kecil seperti bangun jam 5 pagi, pergi ke gym, makan sehat, hingga keputusan besar seperti memilih karier atau membuat channel YouTube.

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa orang dewasa setidaknya mengambil 35.000 keputusan setiap harinya. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara kita bisa mengurangi risiko dalam pengambilan keputusan sebanyak itu? Mungkin saja, banyak dari kalian tidak sadar bahwa setiap aksi yang kalian lakukan merupakan sebuah keputusan. Bahkan, saat kalian memilih untuk tidak mengambil keputusan, itu sendiri adalah sebuah keputusan.

Contoh yang mungkin bisa kalian pahami adalah dalam hal pacaran. Misalnya, kalian memiliki tiga pilihan pasangan. Sebagai manusia, tentu kita tidak ingin salah memilih. Kita bertanya-tanya, apakah pilihan pertama bagus? Bagaimana dengan pilihan kedua? Atau mungkin pilihan ketiga lebih baik? Kita tidak ingin salah memilih seseorang yang justru nantinya akan membawa kehancuran dalam hidup kita.

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko dalam Pengambilan Keputusan?

Langkah pertama adalah memahami bagaimana cara kerja otak kita. Menurut Daniel Kahneman, seorang penulis buku Thinking, Fast and Slow, otak manusia terbagi menjadi dua sistem:

  1. Sistem 1 berpikir secara cepat dan instingtif.
  2. Sistem 2 berpikir secara lambat dan analitis.

Contoh sederhana, jika saya bertanya, "1 + 1 berapa?" Kalian pasti langsung bisa menjawab, kan? Itu adalah thinking fast (Sistem 1). Tetapi jika saya bertanya, "24 × 78 berapa?" Kalian pasti perlu berpikir lebih lama. Itulah thinking slow (Sistem 2).

Dalam pengambilan keputusan sehari-hari, kita disarankan untuk menggunakan Sistem 2 ketika menghadapi keputusan dengan bobot besar. Namun, hanya mengandalkan Sistem 2 saja tidak cukup. Kita juga harus memahami yang namanya bias—kecenderungan pikiran manusia yang dapat mempengaruhi keputusan tanpa kita sadari.

7 Bias yang Perlu Kalian Ketahui

  1. Recency Bias
    Pernahkah kalian mengambil keputusan karena baru saja mendapatkan informasi tertentu? Misalnya, saat memilih baju, kalian bingung karena terlalu banyak pilihan. Namun, karena baru saja melihat suatu model baju di media sosial, kalian merasa baju itu lebih cocok untuk kalian.

    Ini terjadi karena otak kita tidak ingin berpikir terlalu sulit dan memilih opsi yang lebih mudah diingat. Bahkan, dalam dunia psikologi, ada istilah decision fatigue—di mana manusia bisa merasa lelah hanya karena terlalu banyak mengambil keputusan.

  2. Confirmation Bias
    Bias ini terjadi ketika seseorang selalu mencari narasi untuk membenarkan tindakannya. Ini sering terjadi pada orang yang memiliki ego tinggi dan merasa tidak boleh salah.

    Contohnya, dalam sebuah perdebatan, ada orang yang selalu berusaha membuktikan dirinya benar dengan hanya mengambil data atau argumen yang mendukung sudut pandangnya, tanpa mempertimbangkan informasi lain.

  3. Anchoring Bias
    Bias ini terjadi ketika kita terlalu bergantung pada satu informasi awal sebagai acuan dalam pengambilan keputusan.

    Contoh sederhana, kalian melihat harga sebuah baju yang awalnya Rp1.000.000 kemudian didiskon menjadi Rp500.000. Kalian merasa bahwa itu adalah good deal, padahal sebenarnya harga asli baju itu mungkin memang hanya Rp500.000.

  4. Loss Aversion Bias
    Bias ini berkaitan dengan rasa takut akan kehilangan atau merugi.

    Misalnya, kalian sedang dalam hubungan toxic selama satu tahun. Kalian tahu bahwa hubungan ini tidak sehat, tetapi tetap bertahan karena merasa "sayang" dengan waktu yang sudah dihabiskan. Padahal, tetap bertahan justru bisa merugikan diri sendiri lebih lama.

  5. Affect Bias
    Bias ini terjadi saat kita menilai sesuatu hanya berdasarkan penampilan luarnya.

    Contohnya, seseorang yang memakai pakaian mewah, jam tangan mahal, dan mobil keren sering kali dianggap kaya dan sukses. Padahal, belum tentu itu benar. Ini juga sering terjadi dalam keputusan kita saat membeli produk atau memilih pasangan.

  6. Framing Bias
    Cara suatu informasi disampaikan bisa mempengaruhi cara kita melihatnya.

    Contoh, jika ada gelas berisi air sebanyak 1%, seseorang bisa mengatakan, "Gelas ini hampir kosong" atau "Gelas ini masih ada isinya." Meskipun informasi yang diberikan sama, cara penyampaiannya bisa mempengaruhi cara kita meresponsnya.

  7. Social Proof Bias
    Sebagai makhluk sosial, kita cenderung mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain karena takut berbeda atau merasa tidak aman.

    Misalnya, banyak orang lebih memilih untuk mengikuti tren yang sudah ada daripada menciptakan sesuatu yang original karena takut dianggap aneh. Dalam bisnis atau investasi, banyak orang membeli saham hanya karena banyak orang lain yang membelinya, tanpa melakukan analisis lebih lanjut.

Kesimpulan

Mengetahui bias-bias ini bukan berarti kita akan selalu bisa mengambil keputusan yang benar. Namun, dengan menyadari keberadaannya, kita bisa lebih berhati-hati dan lebih sadar dalam berpikir sebelum membuat keputusan.

Jadi, aktifkan thinking slow kalian, analisis setiap keputusan dengan matang, dan jangan biarkan bias mempengaruhi keputusan penting dalam hidup kalian. Jika kalian ingin tahu lebih dalam tentang cara mengambil keputusan yang lebih efektif, bisa komen di bawah atau cek link yang saya sediakan.

Semoga tulisan ini bisa membantu kalian membuat keputusan yang lebih baik!

Post a Comment for "7 Bias Kognitif yang Menghambat Pengambilan Keputusan dan Cara Mengatasinya"