-->
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Modal Skill dan Networking Strategi Saya Keluar dari Kebangkrutan

Modal Skill dan Networking Strategi Saya Keluar dari Kebangkrutan

Buat kalian yang sudah bekerja keras tapi masih berpikir, "Kok gue nggak kaya-kaya ya?" Padahal, kata orang-orang, untuk jadi sukses dan kaya itu harus kerja keras. Mungkin kalian belum tahu bahwa kerja keras saja itu tidak cukup.

Pertanyaannya, kalian mengerjakan apa? Jika kalian mengerjakan sesuatu dengan metode yang salah, alat yang salah, dan leverage yang salah, maka kalian tidak akan pernah kaya.

Ibaratnya begini, kalau kalian mencangkul di lapangan futsal, yang kalian dapat hanya biji-bijian rumput. Tapi kalau mencangkul di tambang emas, tentu hasilnya berbeda. Dan jika mencangkul di tambang emas, kalian tidak bisa menggunakan cangkul untuk rumput futsal atau untuk menanam padi. Harus pakai pickaxe untuk mendapatkan emas.

Dari analogi ini, kalian harus berpikir: kalian sedang mencangkul apa, di mana, menggunakan metode apa, dan dengan alat seperti apa? Atau, jika ingin menambang emas, kalian bisa memanfaatkan alat lain atau tenaga orang lain.

Kali ini, gue akan menyadarkan kalian bahwa jangan hanya asal kerja keras. Pertanyaan terbesar adalah, "Apa yang kalian kerjakan?" dan "Seberapa besar yang kalian kerjakan bisa ditukarkan dengan uang?"

Sekarang kita masuk ke materi: The Triangle of Value. Kalau mau mendapatkan uang, kita harus melakukan pertukaran. Contohnya, seorang videografer gue. Gue mau jual kapur dengan harga Rp1.000. Jika dia mau beli, berarti gue menukar kapur dengan uangnya. Kapur berpindah ke dia, dan uang berpindah ke gue.

Nah, untuk bisa memindahkan uang dari kantong orang lain ke kantong kita, dibutuhkan sesuatu yang bisa ditukarkan. Kalau memindahkan uang tanpa menukarkan sesuatu, itu namanya pencurian.

Masalahnya, banyak orang bekerja keras tanpa memikirkan apa yang mereka tukarkan dengan uang. Triangle of Value akan membuka pikiran kalian tentang bagaimana memilih pekerjaan yang bisa menghasilkan sesuatu untuk ditukarkan dengan uang. Konsep ini gue pelajari dan sedikit gue rombak dari Naval Ravikant, seorang investor di AS.

1. Menukar Waktu dengan Uang (Level Terendah)

Ini adalah level paling dasar dalam Triangle of Value. Contohnya, kerja kantoran dari jam 9 sampai 5. Kalian dibayar berdasarkan waktu yang dihabiskan. Masalahnya, waktu itu terbatas, sedangkan uang tidak. Itulah sebabnya, sedikit sekali orang yang bisa kaya hanya dengan menukar waktu dengan uang.

2. Menjual Jasa (Lebih Tinggi dari Waktu)

Menjual jasa masih berarti menukar waktu, tapi dibayar lebih mahal. Contohnya, tukang pijat freelance. Jika dia bekerja di sebuah tempat refleksi, customer membayar Rp300.000, tapi dia hanya mendapat Rp50.000 karena ada perusahaan yang "mencalo" jasanya.

Jika dia langsung ke customer tanpa perantara, dia akan mendapat bayaran penuh. Tapi kebanyakan orang takut kehilangan kestabilan penghasilan, padahal kestabilan justru menghambat pertumbuhan eksponensial.

3. Menjual Produk

Di level ini, kalian tidak lagi menjual waktu, tetapi produk. Contohnya, jika gue punya pabrik kapur, orang tidak peduli berapa lama gue membuatnya, yang penting mereka bisa membelinya. Permasalahannya, menjual produk tetap memiliki marginal cost of replication, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membuat produk tambahan.

4. Menjual Data dan Informasi

Marginal cost di sini jauh lebih kecil dibanding produk fisik. Contohnya, software. Sekali dibuat, setiap pengguna baru hanya memerlukan biaya tambahan kecil, tetapi dijual dengan harga jauh lebih tinggi.

5. Intellectual Property dan Uang (Level Tertinggi)

Menjual uang berarti menggunakan uang untuk menghasilkan uang, seperti bank atau investasi saham dan kripto. Contohnya, bank mendapat bunga dari selisih antara tabungan dan pinjaman.

Sedangkan Intellectual Property (IP) adalah menjual nama dan personal branding. Contohnya, influencer yang memiliki restoran dengan namanya. Dia tidak perlu mengelola operasional, tetapi karena restorannya memakai namanya, maka bisnisnya ramai dan dia mendapat keuntungan.

Karena gue sadar akan hal ini, gue lebih suka bermain di level IP, investasi, dan data informasi. Itulah alasan gue membangun personal branding, kelas online, dan produk digital, lalu menginvestasikan uangnya kembali.

Buat kalian yang sudah kerja keras, coba pikirkan ulang. Pilihlah nilai apa yang ingin kalian tukarkan dengan uang. Jika masih kerja kantoran, coba tambah dengan jasa, produk, atau naik ke level yang lebih tinggi.

Post a Comment for "Modal Skill dan Networking Strategi Saya Keluar dari Kebangkrutan"